Belajar Ikhlas (Part II)

28 April 2016—adalah hari paling menyedihkan, hari yang tak akan pernah bisa kulupakan dalam hidupku. Aku harus tegar, aku harus kuat menerima kenyataan bahwa Bapak pergi meninggalkanku, meninggalkan kami untuk selamanya.

A good time with you

Aku masih tak percaya bahwa Bapak pergi meninggalkan kami sekeluarga. Aku masih bertanya dalam hati, Ya Allah apakah benar Engkau telah mengambil nyawa Bapak? Mengapa secepat ini Engkau meminta beliau? Mengapa Engkau tak memberiku waktu untuk membahagiakan beliau? Aku bahkan belum sempat membuatnya tersenyum bangga. Aku masih ingin diantar pergi-pergian oleh Bapak. Aku masih ingin dibukakan pintu ketika pulang malam oleh Bapak. Aku masih ingin bercerita banyak hal di malam hari bersama Bapak. Aku masih ingin satu meja makan bersama Bapak. Aku masih ingin melihat Bapak tertawa ketika melihat tontonan lucu. Aku masih ingin bersamanya, Ya Allah….

Bahkan sampai Bapak dibawa ke rumah aku masih berharap Bapak bisa bangun lagi. Bahkan ketika kain kafan membalut tubuhnya aku masih berharap Bapak membuka mata dan memanggil namaku. Bahkan ketika tetangga dan sahabat Bapak datang aku masih berharap Bapak bisa menyapa mereka. Bahkan setiap detik waktu berjalan aku masih berharap Bapak kembali hidup.

Malam terakhir bersama Bapak, aku berusaha khusyuk mengaji surat Yasin di depan jenazah Bapak ketika orang-orang tak lagi berkerumun di ruang tamu, tempat jenazah Bapak diletakkan. Sekuat apapun aku mencoba saat itu, air mata selalu turun membasahi pipiku. Selesai mengajikan Bapak, aku bersembunyi di kamarku, masih menangis bertanya kenapa Bapak masih belum bangun dari tidurnya. Sampai akhirnya tertidur bersama kakakku.

Sejam kemudian aku terbangun, bingung sendiri. Aku harap kepergian Bapak hanya mimpi. Namun, saat membuka  pintu kudapati keadaan yang sama seperti sebelumnya. Ini bukan mimpi.

“Pas dokter lagi rame téh, Bapak mah sebenarnya udah lepas aja dari jasadnya. Udah ada di sebelah kasur sambil ngaléléwé (mengolok-olok) si dokternya.”  Mbak Dewi yang bisa melihat hal-hal di luar batas normal mata manusia biasa sedang menceritakan kembali kejadian sesaat setelah Bapak pergi menurut apa yang dia lihat.

Aku penasaran, kubuka pintu kamar Mbak Dewi dan duduk di atas kasur. “Iya gitu?”

“Pas Mbak pulang ke rumah, mau nyiapin karpet buat di ruang tamu, Bapak sempet main dulu sama si kitty, dielus-elus kucingnya sama Bapak.”

“Ooh, dielus dulu si kitty, kucing kesayangan atuh da. Kalau sekarang kelihatan nggak Mbak ada di mana?” Aku makin penasaran.

“Enggak ada sekarang mah. Tadi ada, pas kamu sama Mbak Tuti tidur di kamar berdua, Bapak ada di tengah-tengah nemenin. Tidurnya sebelahan kan? Deketan?”

Aku berusaha mengingat posisi tidurku tadi, iya benar memang sebelahan, berdempetan. Andai saat itu aku bisa melihat atau merasakan keberadaan beliau.

Suasana kamar hening sejenak.

I'm your forever daddy's little girl

“Mau tau Dek, Bapak sekarang ada di mana?” Aku mengangguk. “Tuh di belakang kamu, lagi duduk sila ngelus rambut sambil senyum.”

Waduh! Cirambay lagi bro! Air mata kali ini deras sekali. Beliau ada namun tak terlihat, terasa pun tidak. Ya Allah, tak bisakah engkau membukakan mata batinku hanya untuk melihat senyum beliau. Aku ingin berjumpa dengannya lagi.

***

Sudah lebih dari 12 jam sejak Bapak dinyatakan tiada. Adik-adik Bapak dari Madiun dan Bogor pun sudah memenuhi rumahku. Satu persatu membuka kain kafan yang menutupi muka Bapak untuk dapat melihat, mengecup kening beliau sebagai tanda pamit untuk yang terakhir kalinya. Setiap kain kafan dibuka, saat itulah tangis terdengar. Air mataku pun ikut membasahi pipi setiap kali mendengar itu.

Jam menunjukkan pukul 6 pagi. Jenazah Bapak mulai ditempatkan di keranda mayat yang ditutupi dengan kain berwarna hijau bertuliskan lafadz Allah dengan rangkaian bunga di atasnya. Melihat itu, aku panik.

“Anu, itu, jangan dulu ditutup, masih ada 1 lagi yang belum ketemu Bapak, masih di jalan bentar lagi sampe.”

“Iya nggak apa-apa, bisa dibuka, nanti dibuka aja.”

Alasan kami menunda pemakaman Bapak karena dua hal. Pertama, menunggu adik-adik Bapak yang ada di Madiun dan Bogor, yang mana membutuhkan waktu cukup lama untuk menempuh perjalanan ke Bandung. Kedua, paman kesayangan Bapak yang tinggal di Rancaékék. Sebenarnya Mbah sudah mengetahui kabar kepergian Bapak saat itu juga. Namun, karena kaget kondisi fisik beliau melemah dan harus beristirahat di rumah dahulu. Barulah, keesokan paginya ia memaksakan diri untuk bertemu keponakan tercintanya.

Suasana rumahku ramai sekali saat itu. Beberapa orang berkata, kakaknya Bapak sudah datang. Ingin rasanya aku membenarkan mereka bahwa Mbah itu bukan kakak, tapi paman Bapak. Tapi aku terlalu sibuk untuk hal itu, aku keluar rumah untuk menunggu kedatangan Mbah. Kulihat ia dituntun oleh anaknya di sisi kanan dan kiri. Dari kejauhan ia terus memanggil nama Bapak dengan nada kesedihan mendalam.

Air mataku kembali membasahi pipi mendengar kesedihan yang dirasakan Mbah. Kesedihannya memuncak ketika diperlihatkan wajah terakhir Bapak, ia menangis sejadi-jadinya. Napasnya perlahan sesak. Suaranya terdengar seperti napas Bapak ketika di rumah sakit beberapa hari yang lalu. Persis.

Setelah tidak ada lagi tamu yang ditunggu, akhirnya kami berjalan menuju pemakaman di daerah rumah kami. Beberapa hari setelah kejadian hari ini Mbak Dewi bercerita bahwa Bapak sempat memeluk seluruh anggota keluarga yang ada di rumah ini, ia pun mengecup kening Ibu untuk terakhir kalinya. Setelah itu ia menunggu di pagar rumah seolah mengajak orang-orang yang akan mengantarkan jenazahnya untuk menyegerakan prosesi pemakaman.

Time to say goodbye

Kakak lelakiku ikut serta dalam proses penguburan jenazah Bapak. Satu-satunya orang yang terlihat paling tegar sejak Bapak pergi kemarin hanyalah dia. Orang yang terlihat paling irit keluar air matanya adalah mas Bian. Namun, begitu kuburan Bapak ditutupi rapat oleh tanah kuburan dia jadi satu-satunya orang yang terlihat paling sedih dan meneteskan banyak air mata di depan kuburan Bapak. Mungkin ia hanya ingin menangis setelah jasad Bapak tak lagi ada di hadapannya. Mungkin ia terlalu malu jika Bapak melihat satu-satunya anak lelaki di keluarga ini menangis.

Selamat jalan Bapak, semoga amal ibadah Bapak diterima oleh Allah, diringankan siksa kubur dan siksa api neraka, diampuni dosa-dosanya selama di dunia, ditempatkan di tempat terbaik di surga.

Kami semua akan selalu mendoakanmu, menjaga nama baikmu sampai tiba waktunya kami bertemu denganmu lagi nanti.

Al-fatihah.

***

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s