Belajar Ikhlas (Part I)

Dua puluh empat tahun menjadi saksi hidup yang merasakan betapa besarnya kasih sayang yang diberikan oleh seorang Ayah kepada anaknya, I couldn’t ask for anything more than this. I love you more than everything in this world, Pak.

9e-01

Malam itu aku menerima chat dari kakakku yang mengatakan bahwa Bapak harus rawat inap di rumah sakit. Badan langsung lemas seketika membaca chat tersebut, mendadak nggak fokus, pikiran udah kemana-mana, mau nahan nangis tapi akhirnya banjir juga. Seumur idup baru pertama kali denger berita Bapak harus rawat inap, biasanya cukup pake obat biasa aja udah langsung sembuh. Lha ini… Ini harus gimana???

Seminggu sebelumnya, saat aku pulang ke Bandung, kondisi Bapak Alhamdulillah masih sehat. Tapi sehari setelah aku pulang, Bapak sakit. Namanya juga udah tua, penyakitnya juga ya penyakit yang selalu sama seperti biasanya, sebatas masuk angina disertai demam dan darah tinggi yang kembali kumat. Biasanya memang sering terjadi. Tapi nggak pernah sampai dirawat sih, cukup berobat ke dokter dikasih obat. Paling lama juga seminggu, udah itu ya bisa kesana kemari lagi. Tapi ternyata, kali ini memang beda ceritanya. Sampai bikin hati nggak tenang, bawaannya pengen pulang. Oke besok pulang pake travel paling pagi, jam 5 dari Jakarta.

Oke singkat cerita, aku balik Bandung.

Sesampainya di rumah sakit Bapak terbaring lemah di atas kasur dengan infusan di tangannya. Sebuah selang mengelilingi muka dari telinga sebelah kanan ke sebelah kiri, selang itu menempel di kedua lubang hidungnya. Ingin rasanya nangis di tempat melihat keadaan beliau seperti itu.

Jika bisa, biar kugantikan saja posisinya saat itu. Nggak kuat Ya Allah…

Bagaimana bisa aku menyaksikan beliau dalam keadaan seperti itu di usianya. Merasakan sakitnya jarum suntik menancap di lengannya. Merasakan tidak nyamannya menggunakan selang untuk alat bantu pernapasan. Betapa sesaknya beliau bernapas dengan keadaan seperti itu. Sedangkan aku bisa bernapas normal tanpa adanya ‘noise’ seperti yang beliau rasakan. Pada saat itu diagnosa penyakit masih belum keluar, sehingga treatment yang bisa dilakukan oleh dokter hanyalah pemberian obat termasuk melalui suntikan dan infus serta uap oksigen (kebetulan namanya lupa, pokoknya ada sebuah alat yang produksi oksigen khusus yang membuat lendir yang menempel di paru-paru menjadi cair yang nantinya akan keluar menjadi dahak saat batuk atau muntah). Sejarah jantung Bapak terkontrol dengan baik dan tidak ada masalah selama ini. Sepertinya penyakitnya berasal dari paru-paru, mengingat Bapak perokok berat sejak muda. Walaupun sebenarnya beliau sudah berhenti menjadi perokok aktif sejak dua atau tiga tahun yang lalu. Sebelumnya pun Bapak memang sering mengeluhkan napasnya yang sesak, seperti apa yang terjadi saat ini. Namun, sepertinya ini yang paling parah.

Malam ini adalah malam kedua Bapak menginap di rumah sakit. Aku giliran jaga malam bersama kakak ketigaku yang juga baru datang sore tadi dari Jakarta. Kami berdua berusaha untuk tetap membuka mata sepanjang malam, menjadi orang yang siap sedia di kala Bapak butuh apapun itu. Tidak lupa setiap detik kami berdoa memohon pada Allah agar Bapak cepat sembuh. Mudah-mudahan nggak lama di rumah sakitnya, mudah-mudahan besok sudah bisa pulang ke rumah. Mudah-mudahan…

“Ambilkan minum…” pinta Bapak tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Aku seakan berlomba dengan Mbak Dewi untuk mengambilkan air minum untuk Bapak. Setelah meneguk air minum yang kuberikan pada Bapak, tak lama beliau berkata, “Nyuwun pangampuro ya, Bapak nggak bisa jaga kamu.” (nyuwun pangampuro dalam bahasa Indonesia berarti meminta maaf atau ampun)

Dag!

Ujung kepala sampai ujung kaki serasa beku. Shocked! Nggak bisa jawab, bahkan menganggukan kepala. Sepanjang sakit Bapak terus-menerus meminta maaf ke setiap orang berbeda. Hingga akhirnya ia meminta maaf padaku. Beliau juga meminta maaf kepada kakakku yang sedang berdiri di sisi sebelah kasur bersebrangan denganku. Kami tak berkata apa-apa. Suasana sempat hening saat itu. Kulihat mata Mbak Dewi berkaca-kaca. Kami berdua berusaha menahan nangis agar tidak jadi pikiran Bapak. Takut nanti tekanan darahnya tinggi lagi. Takut makin lama nginep di rumah sakitnya.

***

Malam kedua Bapak dirawat di rumah sakit, ditemani dengan Mbak Tuti yang kebetulan pulang cepat dari kantornya. Sayangnya malam ini tidak sedamai malam sebelumnya. Bapak agak kesusahan untuk tidur pulas. Beberapa kali beliau terbangun karena posisi tidur yang tidak nyaman, sehingga posisi bantal harus diubah sedemikian rupa sampai beliau bisa tertidur. Tidak sampai setengah jam tidur, beliau terbangun dan mengeluhkan keadaan ruangannya yang terasa panas. Belum lagi kaki badannya yang terasa pegal minta dipijat. Tak lama tertidur, beliau minta badannya di lap dengan air dingin. Setelah mengganti bajunya, barulah beliau bisa tidur.

Tapi 10 menit tertidur, beliau terbangun. Mengganti posisinya yang berasa tidak nyaman.

Tidur lagi, kemudian terbangun lagi. Kali ini napasnya terasa sesak, bernapas biasa saja terasa berat sekali, seperti ada yang menekan dadanya. Aku jadi teringat peristiwa tadi siang ketika mendengarkan Bapak bernapas dengan suara aneh dan cukup keras yang mengirinya saat menarik dan menghembuskan napas. Aku juga tak lupa raut wajah beliau ketika harus menggunakan alat uap oksigen dengan durasi lebih lama dari sebelumnya.

Ya Allah… Adakah yang bisa kulakukan agar Bapak sembuh?

Camera 360

Kejadian ini terus berlangsung sampai pagi hari. Beliau terus mengeluhkan panasnya suhu ruangan saat itu. Ia meminta badannya di lap lagi, dan diganti bajunya dengan yang baru. Ia bahkan meminta untuk pindah ruangan ke ruangan yang lebih dingin dan lebih luas. Oke, akhirnya kami mencoba mencari ruangan yang lebih nyaman, yang lebih sedikit pasiennya dalam ruangan. Bahkan, karena panik kami pun mencoba mengobrol dengan dokter agar mengganti obat atau mungkin dosis atau apapun yang bisa mengurangi sakitnya Bapak. Apalagi yang bisa kami lakukan selain memberikan yang terbaik untukmu, Pak?

Setelah mengganti infusan, obat dan kamar, kami mendapati kondisi Bapak semakin buruk. Bapak terlihat sangat lemah. Sebelumnya Bapak bisa meluruskan posisi badannya di atas kasur, namun sekarang posisinya seperti orang yang sedang menggigil kedinginan. Bahkan, atas saran seorang dokter Bapak harusnya dilarikan ke ruang ICU, Ya Allah apakah separah itu penyakit Bapak???

***

Aku memutuskan untuk pulang ke kosan Mbak Tuti. Kami berdua tak sanggup, kami berdua tak tega ketika melihat kondisi Bapak yang semakin buruk. Tapi tetap saja namanya anak, baru setengah jalan udah kepikiran macam-macam. Yaudah, kita istirahat sejam aja, mandi kemudian balik lagi ke rumah sakit.

Belum lama merebahkan badan di kasur empuk, aku membaca chat Mbak Dewi yang sedang jaga di rumah sakit bersama ibu.

“Bapak koma.”

Astagfirullah… Aku bangun dari posisi tidurku, coba membaca ulang.

“Mbak, ini salah baca nggak sih? Kok Mbak Dewi nulisnya Bapak koma? Kok koma sih?”

Kakakku balik bertanya. Oke, kita berdua linglung tidak dapat menafsirkan artian kata koma. Bingung, ini apaan sih? Kok kaya becanda, ngelantur banget ngomongnya. Ditanya balik malah dijawab nggak tau. Kami pun memutuskan kembali ke rumah sakit untuk mencari tahu jawabannya.

Apa sih koma? Kenapa sih bisa koma? Tadi kan cari ruangan ICU? Tadi kan baru diganti obat-obatnya, terus kok koma sih? Sepanjang jalan mengendarai motor hatiku terus bertanya-tanya. Nggak bisa fokus lagi, air mata terus mengalir, tangan dan perut kram, rasanya jarak ke rumah sakit seakan seratus kali lebih jauh dari jarak normal saat itu.

Sampai rumah sakit kami berdua berlarian ke arah kamar Bapak. Pintu kamar tempat Bapak dipindahkan kubuka perlahan, di ranjang itu Bapak dikelilingi oleh anak-anaknya dan kedua cucunya. Kakakku yang ada di belakang tak sanggup lagi melangkah hingga akhirnya terjatuh di pintu kamar.

Aku berjalan perlahan mendekati kasur Bapak. Kupegang kakinya, mengapa dingin sekali kaki Bapak? Bukankah tadi terasa panas, Pak?

Kakak lelakiku mengusap muka Bapak, kenapa? Biar apa? Ia kemudian mencium kening Bapak.

Beberapa suster mulai merapikan infusan dan alat yang sebelumnya digunakan Bapak. Sepertinya sudah mendapat ruang ICU, pikirku dalam hati. Namun, saat salah seorang suster itu menggunting gelang pasien yang melingkari pergelangan tangan Bapak aku bertanya-tanya dalam hati. Lho kok digunting?

“Mbak ini tuh sebenernya gimana?” Aku masih kebingungan dan penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.

“Bapak udah nggak ada…”

Tak ada kata-kata keluar dari mulutku. Aku menangis sejadi-jadinya tanpa mengeluarkan suara apapun. Air mata mengalir deras tanpa henti dari mataku. Kakakku langsung memelukku dan membawaku keluar ruangan.

Rasanya sakit, sakit sekali mengetahui kenyataan Bapak telah tiada. Rasa sakit yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Rasa sakitnya melebihi dijauhi teman satu kelas, rasa sakitnya melebihi diselingkuhin atau diputusin pacar, rasa sakitnya melebihi dimarahi pelanggan atau atasan kerja, rasa sakitnya melebihi apapun yang pernah kurasakan di dunia ini. Sebuah rasa sakit yang tak pernah kualami sebelumnya, rasa sakit yang tidak bisa dideskripsikan lagi rasanya seperti apa. Rasanya sakit…

***

 

p.s: I were crying so hard while typing this post. He passed away almost a year ago, but I still remember everything on that day

Advertisements

2 thoughts on “Belajar Ikhlas (Part I)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s