Hari Terakhir

Sejak kecil, aku sudah hidup sebatang kara tanpa tahu siapa dan dimana orang tuaku ataupun saudaraku. Tak pernah terlintas sedikit pun untuk mencari tahu keberadaan mereka. Aku lebih suka mencari sesuatu yang bisa kumakan untuk dapat bertahan hidup dibandingkan mencari tahu asal-usulku. Ya, setiap hari aku berjalan tanpa arah sambil mencari apa saja yang bisa mengganjal perutku. Selain makanan, langkah kecilku ini selalu menuntun pada hal-hal baru yang tak pernah kutemui sebelumnya, temasuk pertemuanku dengan Dede, seorang anak berusia 9 tahun bernasib sama denganku.

Hari pertama kami bertemu menjadi momen tak pernah kulupakan sampai saat ini. Ia adalah orang pertama yang memperkenalkan padaku apa artinya rumah. Sore itu ia menunjukkan sebuah kamar kecil yang terletak di pinggiran rel kereta api. Ukurannya memang tidak cukup untuk menampung sebuah kasur empuk. Namun, besarnya pas untuk kami berdua berbaring memejamkan mata. Dindingnya pun tidak sekokoh rumah pada umumnya, hanya triplek using yang mampu menahan dinginnya angin malam ketika berhembus. Meskipun hanya mengandalkan cahaya bulan atau terangnya lampu milik tetangga, bagi kami inilah tempat tinggal terbaik kami.

Sayangnya, sebulan yang lalu istana sederhana kami menjadi bahan perdebatan sekelompok orang yang tidak kami kenal. Orang-orang dengan setelan kemeja rapi itu mengklaim bahwa tanah tempat kami tinggal bertahun-tahun ini milik mereka. Tak banyak yang dapat kami lakukan untuk mempertahankan tempat tinggal kami pada saat itu. Kami sudah mengeluarkan berbagai cara untuk bernegosiasi dengan mereka. Namun apa daya, kami dan beberapa tetangga kami yang bernasib serupa terpaksa harus angkat kaki dari tempat itu. Sejak saat itulah kehidupan kami berubah.

***

Angin timur berhembus kencang mengantarkan segerombolan awan hitam ke tempat kami berada. Teriknya matahari perlahan mulai meredup. Siang ini sang surya kalah lagi melawan awan mendung yang datang berbondong-bondong.

Tik…. Tik….

Air mulai menetes dari langit membasahi jalanan tempat kami duduk. Orang-orang yang lewat di sekitar kami terlihat berlarian menghindari tetesan air hujan. Tak sedikit dari mereka yang menggunakan tas untuk menutupi kepalanya agar tidak kebasahan. Beruntung aku duduk di depan toko yang memiliki atap pelindung yang cukup luas untuk menahan badanku dan Dede agar tidak terkena air hujan.

Hujan rupanya tidak sendirian, kali ini ia datang bersama angin. Tidak hanya membuat kami kebasahan tapi juga membuat kami menggigil kedinginan. Ah, aku tak kuat lagi menahan dinginnya cuaca kali ini. Aku melirik Dede, ia terlihat beberapa kali menggosokkan telapak tangannya dan kemudian menaruhnya di leher atau di lengannya agar hangat. Rasanya aku ingin masuk ke dalam gedung tinggi yang ada di sebrang kami, jika mereka memperbolehkan kami yang dekil ini bisa masuk.

“De, ayo ke Bangtu!”

Dede mencari sumber suara yang memanggilnya, begitupun aku. Tak jauh dari kami duduk, terlihat seorang anak berumuran tak jauh berbeda dengan Dede memegangi payung besar di tangan kirinya. Kulihat badannya basah kuyup, mungkin ia baru saja berkorban meminjamkan payungnya untuk orang lain demi mendapatkan uang untuk makan. Kulihat Dede tersenyum, ia menoleh ke arahku, seakan memberi aba-aba untuk menerjang derasnya hujan saat itu. Tanpa pikir panjang, kami nekat melawan hujan untuk berada dalam satu payung bersama teman Dede, Adi namanya.

Kami bertiga berjalan beriringan dalam satu payung menuju Bangtu, sebuah bangunan tua bekas pabrik pembuatan batu bata yang sudah lama tidak digunakan. Bangunannya memang terlihat seperti tempat pembuangan sampah atau barang bekas. Beberapa sisi tembok bahkan sudah hancur. Lantainya diwarnai dengan hijaunya rumput liar yang bercampur dengan sampah. Tidak apa-apa, setidaknya atap bangunan yang cukup luas ini mampu melindungi kami dari hujan yang tak kunjung reda sedari tadi.

Dede berjalan perlahan menuju bagian dalam Bangtu. Aku mengikuti Dede tepat di belakangnya. Kulihat tak hanya kami yang memilih Bangtu sebagai tempat berteduh. Di dalam Bangtu, ada beberapa anak seusia Dede atau bahkan lebih tua dari Dede sedang duduk bersenda gurau dengan yang yang lainnya. Beberapa di antara mereka secara bergantian tersenyum dan menyapa kami yang baru saja bergabung dengan mereka.

Dede menghentikan langkahnya di dekat perapian yang terdiri dari ban bekas dan kayu tua yang menyala sejak kami masuk Bangtu. Ia mendekatkan telapak tangannya di dekat api. Aku memilih duduk agak mundur dari posisi Dede untuk menikmati hangatnya api. Setelah merasa cukup hangat, ia berbalik mundur dari tempatnya dan duduk di sebelahku sambil mengelus halus kepalaku.

Kami berdua seakan sedang di-nina bobo-kan oleh hangatnya perapian di tengah dinginnya hujan. Aku tak sanggup lagi menahan mataku yang mulai terasa berat. Mungkin tak apa-apa jika aku ketiduran sebentar saja, toh Dede pun terlihat aman-aman saja. Sebentar saja…

“Lari!!! Lari semuanya!!! Mereka menuju kemari!!!” teriak seorang lelaki berbaju hitam yang baru saja memasuki Bangtu. Suaranya seakan menggunakan speaker berkekuatan besar yang hendak memecahkan gendang telinga kami.

Aku membuka mataku, kami berdua saling berpandangan kebingungan. Dede mencari tahu apakah yang sebenarnya terjadi dengan teman yang ada di sebelahnya. Namun, jawaban tidak ditemukan. Kami semua bingung dengan apa yang ingin di sampaikan lelaki itu.

Tak lama terdengar suara beberapa orang berlarian ke arah Bangtu. Mungkin jumlahnya ada sekitar lima sampai enam orang. Suara langkah kaki yang sebelumnya pernah kudengar, beberapa bulan lalu saat aku dan Dede sedang mengemis di jembatan penyebrangan pusat kota. Jangan-jangan ini mereka, pikirku dalam hati.

“Kami menemukan mereka, Pak! Tepatnya di bangunan tua area Flamboyan satu. Segera kirimkan bantuan. ” suara langkah kaki yang tak beraturan itu kian lama mendekat. “Ayo semuanya tangkap mereka!”

Seluruh penghuni Bangtu menoleh ke arah tersebut. Spontan semua angkat kaki melihat sekelompok orang berusia 30-40 tahun dengan menggunakan seragam yang sama. Dugaanku benar, mereka datang lagi mencari kami. Saatnya menyiapkan energi untuk lari sejauh mungkin untuk menghindar dari mereka. Tanpa aba-aba aku dan Dede melarikan diri keluar Bangtu, tak peduli bagaimana nasib yang lainnya.

Hampir sejam kami berlari menjauhi Bangtu. Dede tampak kelelahan dalam pelarian ini. Ia kemudian membelokkan badannya ke sebuah mobil di parkiran tertutup sebuah gedung. Aku mengikutinya dari belakang.

Nafasnya terengah-engah. Sesekali ia berusaha menenangkan dirinya dengan menghela napas panjang, sepertinya ini adalah pelarian yang paling melelahkan bagi kami. Ini memang bukan pertama kalinya kami berada dalam keadaan seperti ini. Seringkali kami kehabisan napas ketika harus berlarian dari kejaran lelaki berseragam yang selalu mencari kami. Mudah-mudahan tempat kami bersembunyi kali ini tidak diketahui oleh mereka.

“Tunggu di sini, aku akan melihat kondisi di luar.”

Belum sempat aku mengatakan tidak ia sudah berdiri dan pergi meninggalkanku. Aku ingin mengikuti kemana ia pergi, namun rasanya keberanianku tak sebesar badanku. Aku takut jika aku harus berhadapan dengan orang-orang itu. Aku takut jika mereka mulai meneriaki dan mengejarku tanpa kenal lelah. Ah! Aku tak peduli lagi! Dede bahkan mengorbankan dirinya sendiri demi keselamatanku. Baik, aku akan mencari Dede dan berada bersamanya lagi.

Aku memberanikan diri keluar dari persembunyianku. Kulihat kanan dan kiri, tak ada siapapun. Aku berjalan mengikuti langkah kaki Dede yang masih bisa kurasakan jejaknya. Aku dapat merasakan bahwa jarak antara aku dan Dede semakin dekat. Aku percepat langkah kakiku agar bisa lebih cepat menemui bocah malang itu.

“Jangan, Pak! Saya bukan gelandangan, saya punya rumah, saya hanya tersesat saja.”

Aku mencari di mana letak sumber suara ini. Terlambat! Orang itu lebih cepat menemukan Dede dibandingkan dengan instingku. Aku diam, tak bisa bergerak. Tubuhku seakan terpaku dengan tanah.

Dede berusaha melepaskan pergelangan tangannya dari genggaman lelaki berbadan tegap itu. Sebisa mungkin ia memohon belas kasihan dan menangis agar ia tidak dibawa oleh orang itu di bawah rintik hujan. Lelaki itu justru tak kenal ampun, diseretnya Dede layaknya ia menyeret karung beras. Dede masih berusaha menahan diri agar ia tak berpindah tempat, meskipun satu sentimeter.

Aku tak tahan lagi melihat Dede meronta kesakitan. Aku tak bisa membiarkan ini terjadi lebih lama. Tanpa pikir panjang aku berlari dan melompat ke arah lelaki itu. Kugigit keras pergelangan tangannya hingga ia mengerang kesakitan. Tangannya refleks melepas pergelangan tangan Dede.

“Aaaarrggghhh!!!!” spontan ia memukul badanku agar bisa melepaskan gigiku dari pergelangan tangannya. Namun, gigiku ini lebih kuat darinya.

“Dede, ayo cepat pergi!” terdengar suara Adi dari arah berlawanan memanggil Dede.

Dede menoleh ke arah sumber suara. Ia kemudian menatapku yang masih menggigit pergelangan tangan lelaki berseragam itu.

Pergilah, ucapku dalam hati.

Dede berusaha bangkit dari tempatnya. Ia berlari sekuat tenaga meninggalkanku yang masih berusaha mengulur waktu agar lelaki ini tidak dapat mengejar Dede. Tak hanya sekali ia berusaha melemparkan badanku ke tanah. Namun, selama punggung Dede masih terlihat di mataku aku takkan melepaskan gigitanku ini.

“Rasakan ini!” Lelaki itu memukul kepalaku dengan sesuatu yang keras beberapa kali. Aku tak sanggup menahannya lagi. Perlahan badanku terjatuh ke atas tanah tempat Dede duduk tadi. Syukurlah, Dede sudah tidak terlihat lagi dari pandanganku. Namun, suaranya dari kejauhan masih terdengar jelas di telingaku.

“Kita harus segera lari dari tempat ini!”

“Tapi Gogi masih ada di sana…”

“Ayo! Kita tidak ada waktu lagi!”

Pergilah De, pergilah yang jauh agar lelaki ini ataupun kelompoknya tak dapat mengejarmu lagi. Jangan pedulikan aku, percayalah suatu hari nanti kita pasti bertemu kembali. Aku berusaha meyakinkannya dalam hati di nafas terakhirku.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s