Second Chance

where are you second chance

What does second chance means for?

Tak banyak orang yang gagal pada kesempatan pertama dan memohon agar mendapatkan kesempatan kedua. Oke, saya akui orang-orang inilah yang patut diberi acungan jempol karna ia masih memiliki keinginan dan terus berjuang dengan harapan tinggi bahwa ia dapat mencapai tujuan yang diinginkannya.

Gini deh, ketika kamu pernah melakukan suatu kesalahan sebelumnya, di kesempatan kedua ini kamu berusaha untuk tidak melakukan kesalahan tersebut, dan mencoba melakukan hal yang jauh lebih baik dari apa yang dilakukan sebelumnya. Betul?

Pertanyaannya adalah jika kamu sudah diberikan kesempatan kedua dan kamu masih mengulangi hal yang sama persis dengan apa yang kamu lakukan sebelumnya, apa gunanya kesempatan kedua?

(Un)Hidden Paradise

Banyak orang bilang bahwa Bali memiliki pantai yang sangat indah. Benarkah begitu? Untuk membuktikan kebenarannya, saya mencari tahu dengan mendatanga langsung pulau Dewata, favoritnya turis mancanegara.

Pantai pertama yang saya kunjungi saat menginjakkan kaki di Bali adalah Kuta dan Seminyak yang letaknya berdekatan dengan hotel tempat saya menginap. Namun, sayangnya pantai ini terlalu ramai dan tidak sesuai dengan ekspetasi saya. Dissapointed? Of course. Pantainya enggak jauh kaya pantai Pangandaran cuy. Banyak orangnya, banyak yang jualan, pasirnya coklat dan B aja gitu hehe. Tapi masih enak sih buat jalan-jalan sore di pinggiran pantainya sambil nungguin matahari terbenam.

Mengobati kekecewaan saya, akhirnya saya dan teman-teman berpetualang untuk meng-explore ­daerah Kuta Selatan. Tempatnya cukup jauh untuk pertama kali perjalanan ke sana. Namun, nggak jauh-jauh amat sih, mengingat perjalanan ke sana tidak banyak menemui kemacetan. Ya, mentok macet juga di bunderan menuju bandara hehe.

Setelah menerjang panasnya matahari dan polusi lalu lintas saya dan teman-teman saya sampai juga di pantai pertama kami, Pandawa. Pantai yang dikelilingi oleh tebing-tebing tinggi ini masih bagus banget pantainya, airnya biru, pantainya putih, dan terbilang cukup sepi pengunjung. Baguslah, saya jadi bisa lebih khusyuk menikmati indahnya Pandawa.

Maju sedikit ke arah barat, saya menemukan another magnificent of Bali, yaitu Melasti. Pantai ini tidak jauh berbeda dengan Pandawa, masih dengan tebing-tebing tinggi yang menutupi view pantai ini. Airnya masih berwarna biru bening, yaiyalah masa merah, darah dong hehehe. Pasir pantainya masih putih dan tidak terlalu banyak bule berjemur di pantai ini. Saat saya memasuki pantai ini, kebetulan masih free, jadi tempatnya memang masih dalam tahap pembangunan gitu sih. Mudah-mudahan harga tiket masuknya nanti nggak mahal-mahal amat ya pemirsah hehe…

Oke, lanjut ke pantai lainnya. Saya dan teman-teman mencoba mengunjungi pantai yang berbeda lokasinya dengan pantai sebelumnya. Kali ini saya mengunjungi pantai Suluban Uluwatu, atau yang biasa disebut Blue Point. Pantai ini terlihat indah dari tempat kami berdiri, tapi untuk merasakan dinginnya air pantai ini cukup berliku-liku karena kita harus menuruni tangga agar bisa membasahi kaki kita. Saya tidak merekomendasikan pantai ini sih sebenarnya karena kebanyakan pengunjung pantai ini adalah turis mancanegara yang mau surfing. Kecuali kalau kamu datang ke sini untuk ngopi-ngopi cantik di Single Fin sambil melihatnya indahnya matahari terbenam. Such as best spot to see sunset!

Sebelum saya datang ke Bali, ada teman saya yang bilang “Kamu harus ke pantai Padang-padang yah!”. Baiklah, pantai ini masuk ke dalam list saya juga hari itu. Akses untuk menuju pantai ini tak jauh berbeda dengan Suluban Uluwatu, yaitu harus menuruni beberapa anak tangga untuk dapat melihat tingginya ombak di pantai ini. Oke, pantai ini rame banget sama bule yang berjemur. Laki-laki pasti demen sih di tempat ini, pasti. Saya sendiri seneng aja liat beberapa bule (sepertinya) Australia telanjang dada depan mata, lumayan cuci mata selagi single *maap promosi*.

Jalan lagi menuju ke arah utara, kami menemukan pantai yang menurut kami ini must visit. Dreamland Beach. Sumpah nggak boong, saya suka banget sama pantai ini. Walaupun sempat drama nyasar dulu ke tempat ini, tapi suka banget sama pantainya. Ombaknya tinggi banget, pasirnya putih, rame sih tapi ya nggak terlalu rame juga, lucunya lagi ada bukit padang rumput gitu yang bisa buat kita nyalse sambil liat sunset. Ah, cinta deh sama pantai satu ini.

Beberapa hari yang lalu, sebelum saya pergi ke Bali beberapa foto sempat muncul di halaman explore Instagram saya yang bikin pensaran banget. Sampe minta banget ke temen-temen, kita harus datang ke pantai Balangan. Dan ternyata, emang bagus banget pantainya. Lucu aja gitu, kita bisa lihat keseluruhan pantai ini dari atas tebing, Masya Allah indah coy liat sunset di sini. Jadi ya, kalo kita liat ke bawah kita bakal liat yang lagi surfing, sedangkan di sekeliling kita lagi foto prewed. Asli, banyak banget couple yang antri di sini. Spot-nya emang cuco’ sih buat foto.

Gimana? Jadi pengen ke Bali (lagi) kan?

Sama. Hehe.

Saya masih ingin bercerita tentang keindahan Tanah Lot, tapi let’s save Tanah Lot later ya.

Thank you for reading my post J

Belajar Ikhlas (Part II)

28 April 2016—adalah hari paling menyedihkan, hari yang tak akan pernah bisa kulupakan dalam hidupku. Aku harus tegar, aku harus kuat menerima kenyataan bahwa Bapak pergi meninggalkanku, meninggalkan kami untuk selamanya.

A good time with you

Aku masih tak percaya bahwa Bapak pergi meninggalkan kami sekeluarga. Aku masih bertanya dalam hati, Ya Allah apakah benar Engkau telah mengambil nyawa Bapak? Mengapa secepat ini Engkau meminta beliau? Mengapa Engkau tak memberiku waktu untuk membahagiakan beliau? Aku bahkan belum sempat membuatnya tersenyum bangga. Aku masih ingin diantar pergi-pergian oleh Bapak. Aku masih ingin dibukakan pintu ketika pulang malam oleh Bapak. Aku masih ingin bercerita banyak hal di malam hari bersama Bapak. Aku masih ingin satu meja makan bersama Bapak. Aku masih ingin melihat Bapak tertawa ketika melihat tontonan lucu. Aku masih ingin bersamanya, Ya Allah….

Bahkan sampai Bapak dibawa ke rumah aku masih berharap Bapak bisa bangun lagi. Bahkan ketika kain kafan membalut tubuhnya aku masih berharap Bapak membuka mata dan memanggil namaku. Bahkan ketika tetangga dan sahabat Bapak datang aku masih berharap Bapak bisa menyapa mereka. Bahkan setiap detik waktu berjalan aku masih berharap Bapak kembali hidup.

Malam terakhir bersama Bapak, aku berusaha khusyuk mengaji surat Yasin di depan jenazah Bapak ketika orang-orang tak lagi berkerumun di ruang tamu, tempat jenazah Bapak diletakkan. Sekuat apapun aku mencoba saat itu, air mata selalu turun membasahi pipiku. Selesai mengajikan Bapak, aku bersembunyi di kamarku, masih menangis bertanya kenapa Bapak masih belum bangun dari tidurnya. Sampai akhirnya tertidur bersama kakakku.

Sejam kemudian aku terbangun, bingung sendiri. Aku harap kepergian Bapak hanya mimpi. Namun, saat membuka  pintu kudapati keadaan yang sama seperti sebelumnya. Ini bukan mimpi.

“Pas dokter lagi rame téh, Bapak mah sebenarnya udah lepas aja dari jasadnya. Udah ada di sebelah kasur sambil ngaléléwé (mengolok-olok) si dokternya.”  Mbak Dewi yang bisa melihat hal-hal di luar batas normal mata manusia biasa sedang menceritakan kembali kejadian sesaat setelah Bapak pergi menurut apa yang dia lihat.

Aku penasaran, kubuka pintu kamar Mbak Dewi dan duduk di atas kasur. “Iya gitu?”

“Pas Mbak pulang ke rumah, mau nyiapin karpet buat di ruang tamu, Bapak sempet main dulu sama si kitty, dielus-elus kucingnya sama Bapak.”

“Ooh, dielus dulu si kitty, kucing kesayangan atuh da. Kalau sekarang kelihatan nggak Mbak ada di mana?” Aku makin penasaran.

“Enggak ada sekarang mah. Tadi ada, pas kamu sama Mbak Tuti tidur di kamar berdua, Bapak ada di tengah-tengah nemenin. Tidurnya sebelahan kan? Deketan?”

Aku berusaha mengingat posisi tidurku tadi, iya benar memang sebelahan, berdempetan. Andai saat itu aku bisa melihat atau merasakan keberadaan beliau.

Suasana kamar hening sejenak.

I'm your forever daddy's little girl

“Mau tau Dek, Bapak sekarang ada di mana?” Aku mengangguk. “Tuh di belakang kamu, lagi duduk sila ngelus rambut sambil senyum.”

Waduh! Cirambay lagi bro! Air mata kali ini deras sekali. Beliau ada namun tak terlihat, terasa pun tidak. Ya Allah, tak bisakah engkau membukakan mata batinku hanya untuk melihat senyum beliau. Aku ingin berjumpa dengannya lagi.

***

Sudah lebih dari 12 jam sejak Bapak dinyatakan tiada. Adik-adik Bapak dari Madiun dan Bogor pun sudah memenuhi rumahku. Satu persatu membuka kain kafan yang menutupi muka Bapak untuk dapat melihat, mengecup kening beliau sebagai tanda pamit untuk yang terakhir kalinya. Setiap kain kafan dibuka, saat itulah tangis terdengar. Air mataku pun ikut membasahi pipi setiap kali mendengar itu.

Jam menunjukkan pukul 6 pagi. Jenazah Bapak mulai ditempatkan di keranda mayat yang ditutupi dengan kain berwarna hijau bertuliskan lafadz Allah dengan rangkaian bunga di atasnya. Melihat itu, aku panik.

“Anu, itu, jangan dulu ditutup, masih ada 1 lagi yang belum ketemu Bapak, masih di jalan bentar lagi sampe.”

“Iya nggak apa-apa, bisa dibuka, nanti dibuka aja.”

Alasan kami menunda pemakaman Bapak karena dua hal. Pertama, menunggu adik-adik Bapak yang ada di Madiun dan Bogor, yang mana membutuhkan waktu cukup lama untuk menempuh perjalanan ke Bandung. Kedua, paman kesayangan Bapak yang tinggal di Rancaékék. Sebenarnya Mbah sudah mengetahui kabar kepergian Bapak saat itu juga. Namun, karena kaget kondisi fisik beliau melemah dan harus beristirahat di rumah dahulu. Barulah, keesokan paginya ia memaksakan diri untuk bertemu keponakan tercintanya.

Suasana rumahku ramai sekali saat itu. Beberapa orang berkata, kakaknya Bapak sudah datang. Ingin rasanya aku membenarkan mereka bahwa Mbah itu bukan kakak, tapi paman Bapak. Tapi aku terlalu sibuk untuk hal itu, aku keluar rumah untuk menunggu kedatangan Mbah. Kulihat ia dituntun oleh anaknya di sisi kanan dan kiri. Dari kejauhan ia terus memanggil nama Bapak dengan nada kesedihan mendalam.

Air mataku kembali membasahi pipi mendengar kesedihan yang dirasakan Mbah. Kesedihannya memuncak ketika diperlihatkan wajah terakhir Bapak, ia menangis sejadi-jadinya. Napasnya perlahan sesak. Suaranya terdengar seperti napas Bapak ketika di rumah sakit beberapa hari yang lalu. Persis.

Setelah tidak ada lagi tamu yang ditunggu, akhirnya kami berjalan menuju pemakaman di daerah rumah kami. Beberapa hari setelah kejadian hari ini Mbak Dewi bercerita bahwa Bapak sempat memeluk seluruh anggota keluarga yang ada di rumah ini, ia pun mengecup kening Ibu untuk terakhir kalinya. Setelah itu ia menunggu di pagar rumah seolah mengajak orang-orang yang akan mengantarkan jenazahnya untuk menyegerakan prosesi pemakaman.

Time to say goodbye

Kakak lelakiku ikut serta dalam proses penguburan jenazah Bapak. Satu-satunya orang yang terlihat paling tegar sejak Bapak pergi kemarin hanyalah dia. Orang yang terlihat paling irit keluar air matanya adalah mas Bian. Namun, begitu kuburan Bapak ditutupi rapat oleh tanah kuburan dia jadi satu-satunya orang yang terlihat paling sedih dan meneteskan banyak air mata di depan kuburan Bapak. Mungkin ia hanya ingin menangis setelah jasad Bapak tak lagi ada di hadapannya. Mungkin ia terlalu malu jika Bapak melihat satu-satunya anak lelaki di keluarga ini menangis.

Selamat jalan Bapak, semoga amal ibadah Bapak diterima oleh Allah, diringankan siksa kubur dan siksa api neraka, diampuni dosa-dosanya selama di dunia, ditempatkan di tempat terbaik di surga.

Kami semua akan selalu mendoakanmu, menjaga nama baikmu sampai tiba waktunya kami bertemu denganmu lagi nanti.

Al-fatihah.

***

 

Ngopi di Eugene the Goat!

Sebagai warga kota Bandung, harus saya akui bahwa Bandung hobi banget melahirkan hal-hal baru termasuk menciptakan tempat nongkrong asik seperti resto, kafe sampe coffee shop. Setuju? Apapun jawaban kamu harus setuju, maksa bener yak! Biarin, hehe. Tempatnya ini beraneka ragam, ada yang gabung barengan library, store, art gallery, hotel, bahkan rumah tempat tinggalnya. Yang jadi unggulan tempatnya juga beda lagi gaes, ada yang menonjolkan view tempatnya, ada yang interiornya kece banget, ada yang foods and beverage-nya bikin nagih, ada yang baristanya kece #eh. Yang jelas dari sekian banyaknya tempat nongkrong Bandung, 80%-nya tempatnya pewe abis dan Instagramable banget.

Salah satu tempat yang bikin saya penasaran adalah Eugene the Goat. Sebenenarnya bukan penasaran sih, tapi lebih ke rasa penasaran yang tinggi sebagai warlok masa belum pernah sih nyobain nongkrong di sana hehehe. Coffee shop yang satu ini terletak di jalan Awiligar Raya I No. 2, atau tepatnya ada di lobi Clove Garden Hotel and Residence. Jauh ya? Dari rumah saya sih tinggal ngedipin mata doang, langsung nyampe deh #luckywarlok.

Eugene the GoatEugene plus CloveEugene the Goat, Clove GardenCoffee shop yang satu ini tempatnya semi outdoor gitu. Nggak seutuhnya ada di luar ruangan, tetap ada atap yang melindungi kita dari sinar matahari, kecuali kalau posisi mataharinya ada di barat atau timur, tentu akan terasa silawnya hehe. Asiknya di sini itu kita bisa ngerasain langsung angin was-wes-wos, menyapa dari segala arah. Adem bangeeettt….. (karena lokasinya yang ada di dataran tinggi) Tapi kalau malem bakal lebih kerasa dinginnya shay. Saya aja sebagai warlok dari lahir begitu malam tiba tetep pinjem selimut. Iya, jadi di sini memang disediakan selimut gitu buat kamu yang jomblo dan kedinginan nongkrong di Eugene. Biar nggak macuk angin 😀

Kopi yang dijual di sini adalah kopi yang di-brew secara manual. Karena saya bukan pencinta kopi sejati, maka yang pesan pesan adalah matcha latte seharga 35 ribu dan Cheese Danish seharga 30 ribu, lalu setelahnya pengen yang asem-menyegarkan jadilah memesan lemon squah with sparkling seharga 37 ribu (order by request). Tapi buat coffee lovers, you should taste their coffee. Katanya enak banget, the real coffee gitu. Itu kata temen saya sih, yang katanya cinta kopi. Tapi sama saya gak cinta, ah temen apaan coba hahaha…

Mas lagi apa nih kalo leh tau? hehe

Let's come

Feratry narsis dikit nggak apa-apa ya gaes

Meskipun tempat ini cukup jauh (tapi tetep ya kalo dari rumah saya sih deket banget, jaraknya cuma dua jengkal aja) tempat ini worth it banget buat kamu kunjungi. Cozy banget buat dipake buat nongkrong bareng temen-temen sambil nyalse, sambil keliling di sekitaran Clove Garden juga asik. Tapi inget, kalau ke sini jangan lupa ajak-ajak ya hehehe…

Baksil, A New Place for Ngadem

5 Baksil close up

Bertemu long weekend atau bahkan weekend setelah selama lima hari menghadapi rutinitas selalu jadi hal yang berat banget buat orang yang nggak punya planning sama sekali. Oke lebay, hehe. Sebenarnya saya sendiri juga nggak pernah matok untuk traveling, short trip atau piknik kala hari libur tiba. Tapi terkadang bosen aja gitu kalau nangkring di rumah. Sejauh mata memandang hanyalah tembok dan tembok, lol.

Beruntung saya punya teman single yang selalu mengajak saya kemana pun doi pergi. Nggak tahu emang dia anaknya ingat temen, gatau emang kesepian sih hahaha. Jadi ceritanya, waktu itu doi ngajak saya ke salah tempat bernuansa hijau di pusat kota Bandung yang bernama Babakan Siliwangi atau nama kerennya Baksil. Baksil ini salah satu hutan kota yang terletak di area Sabuga di jalan Siliwangi No. 7 Bandung, depan mural Siliwangi.

Tempat ini terbilang sebagai tempat yang simpel banget. Pertama masuk ke dalam area Baksil yang akan kamu lihat adalah jembatan kayu yang dihiasi oleh daun-daun yang berguguran di tengah-tengah pepohonan yang rindang. Jembatan ini mengitari area Baksil bawah sampai Baksil atas. Ya, kalau kamu jalan sepanjang jembatan ini cape juga sih, panjang bok berlika-liku kaya kehidupan cintaku dengannya hehe…

Pertama masuk Baksil ini hawanya sejuk banget, adem, tenang, dan nggak banyak suara-suara bising, kecuali kalo angkot dari jalan utama menyalakan klaksonnya sih hehe. Tapi serius deh, tempat ini bikin mager  paraaahhh!!!! Kalau cuaca lagi mendung-mendung anget, terus kamu neduh di bawah pepohonan rindang dan duduk di atas jembatan, beeeeuuuuuuh…. Ati-ati digigit nyamuk hahaha 😀

Buat kamu yang ingin menikmati kesejukan dan ademnya Bandung tanpa harus jauh-jauh dari pusat kota pas banget kalau kamu datang ke Baksil. Ditambah lagi dengan banyaknya spot-spot kece buat foto, cocok buat mengisi weekend kamu sambil hunting buat feeds Instagram, iya nggak? 😀

Belajar Ikhlas (Part I)

Dua puluh empat tahun menjadi saksi hidup yang merasakan betapa besarnya kasih sayang yang diberikan oleh seorang Ayah kepada anaknya, I couldn’t ask for anything more than this. I love you more than everything in this world, Pak.

9e-01

Malam itu aku menerima chat dari kakakku yang mengatakan bahwa Bapak harus rawat inap di rumah sakit. Badan langsung lemas seketika membaca chat tersebut, mendadak nggak fokus, pikiran udah kemana-mana, mau nahan nangis tapi akhirnya banjir juga. Seumur idup baru pertama kali denger berita Bapak harus rawat inap, biasanya cukup pake obat biasa aja udah langsung sembuh. Lha ini… Ini harus gimana???

Seminggu sebelumnya, saat aku pulang ke Bandung, kondisi Bapak Alhamdulillah masih sehat. Tapi sehari setelah aku pulang, Bapak sakit. Namanya juga udah tua, penyakitnya juga ya penyakit yang selalu sama seperti biasanya, sebatas masuk angina disertai demam dan darah tinggi yang kembali kumat. Biasanya memang sering terjadi. Tapi nggak pernah sampai dirawat sih, cukup berobat ke dokter dikasih obat. Paling lama juga seminggu, udah itu ya bisa kesana kemari lagi. Tapi ternyata, kali ini memang beda ceritanya. Sampai bikin hati nggak tenang, bawaannya pengen pulang. Oke besok pulang pake travel paling pagi, jam 5 dari Jakarta.

Oke singkat cerita, aku balik Bandung.

Sesampainya di rumah sakit Bapak terbaring lemah di atas kasur dengan infusan di tangannya. Sebuah selang mengelilingi muka dari telinga sebelah kanan ke sebelah kiri, selang itu menempel di kedua lubang hidungnya. Ingin rasanya nangis di tempat melihat keadaan beliau seperti itu.

Jika bisa, biar kugantikan saja posisinya saat itu. Nggak kuat Ya Allah…

Bagaimana bisa aku menyaksikan beliau dalam keadaan seperti itu di usianya. Merasakan sakitnya jarum suntik menancap di lengannya. Merasakan tidak nyamannya menggunakan selang untuk alat bantu pernapasan. Betapa sesaknya beliau bernapas dengan keadaan seperti itu. Sedangkan aku bisa bernapas normal tanpa adanya ‘noise’ seperti yang beliau rasakan. Pada saat itu diagnosa penyakit masih belum keluar, sehingga treatment yang bisa dilakukan oleh dokter hanyalah pemberian obat termasuk melalui suntikan dan infus serta uap oksigen (kebetulan namanya lupa, pokoknya ada sebuah alat yang produksi oksigen khusus yang membuat lendir yang menempel di paru-paru menjadi cair yang nantinya akan keluar menjadi dahak saat batuk atau muntah). Sejarah jantung Bapak terkontrol dengan baik dan tidak ada masalah selama ini. Sepertinya penyakitnya berasal dari paru-paru, mengingat Bapak perokok berat sejak muda. Walaupun sebenarnya beliau sudah berhenti menjadi perokok aktif sejak dua atau tiga tahun yang lalu. Sebelumnya pun Bapak memang sering mengeluhkan napasnya yang sesak, seperti apa yang terjadi saat ini. Namun, sepertinya ini yang paling parah.

Malam ini adalah malam kedua Bapak menginap di rumah sakit. Aku giliran jaga malam bersama kakak ketigaku yang juga baru datang sore tadi dari Jakarta. Kami berdua berusaha untuk tetap membuka mata sepanjang malam, menjadi orang yang siap sedia di kala Bapak butuh apapun itu. Tidak lupa setiap detik kami berdoa memohon pada Allah agar Bapak cepat sembuh. Mudah-mudahan nggak lama di rumah sakitnya, mudah-mudahan besok sudah bisa pulang ke rumah. Mudah-mudahan…

“Ambilkan minum…” pinta Bapak tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Aku seakan berlomba dengan Mbak Dewi untuk mengambilkan air minum untuk Bapak. Setelah meneguk air minum yang kuberikan pada Bapak, tak lama beliau berkata, “Nyuwun pangampuro ya, Bapak nggak bisa jaga kamu.” (nyuwun pangampuro dalam bahasa Indonesia berarti meminta maaf atau ampun)

Dag!

Ujung kepala sampai ujung kaki serasa beku. Shocked! Nggak bisa jawab, bahkan menganggukan kepala. Sepanjang sakit Bapak terus-menerus meminta maaf ke setiap orang berbeda. Hingga akhirnya ia meminta maaf padaku. Beliau juga meminta maaf kepada kakakku yang sedang berdiri di sisi sebelah kasur bersebrangan denganku. Kami tak berkata apa-apa. Suasana sempat hening saat itu. Kulihat mata Mbak Dewi berkaca-kaca. Kami berdua berusaha menahan nangis agar tidak jadi pikiran Bapak. Takut nanti tekanan darahnya tinggi lagi. Takut makin lama nginep di rumah sakitnya.

***

Malam kedua Bapak dirawat di rumah sakit, ditemani dengan Mbak Tuti yang kebetulan pulang cepat dari kantornya. Sayangnya malam ini tidak sedamai malam sebelumnya. Bapak agak kesusahan untuk tidur pulas. Beberapa kali beliau terbangun karena posisi tidur yang tidak nyaman, sehingga posisi bantal harus diubah sedemikian rupa sampai beliau bisa tertidur. Tidak sampai setengah jam tidur, beliau terbangun dan mengeluhkan keadaan ruangannya yang terasa panas. Belum lagi kaki badannya yang terasa pegal minta dipijat. Tak lama tertidur, beliau minta badannya di lap dengan air dingin. Setelah mengganti bajunya, barulah beliau bisa tidur.

Tapi 10 menit tertidur, beliau terbangun. Mengganti posisinya yang berasa tidak nyaman.

Tidur lagi, kemudian terbangun lagi. Kali ini napasnya terasa sesak, bernapas biasa saja terasa berat sekali, seperti ada yang menekan dadanya. Aku jadi teringat peristiwa tadi siang ketika mendengarkan Bapak bernapas dengan suara aneh dan cukup keras yang mengirinya saat menarik dan menghembuskan napas. Aku juga tak lupa raut wajah beliau ketika harus menggunakan alat uap oksigen dengan durasi lebih lama dari sebelumnya.

Ya Allah… Adakah yang bisa kulakukan agar Bapak sembuh?

Camera 360

Kejadian ini terus berlangsung sampai pagi hari. Beliau terus mengeluhkan panasnya suhu ruangan saat itu. Ia meminta badannya di lap lagi, dan diganti bajunya dengan yang baru. Ia bahkan meminta untuk pindah ruangan ke ruangan yang lebih dingin dan lebih luas. Oke, akhirnya kami mencoba mencari ruangan yang lebih nyaman, yang lebih sedikit pasiennya dalam ruangan. Bahkan, karena panik kami pun mencoba mengobrol dengan dokter agar mengganti obat atau mungkin dosis atau apapun yang bisa mengurangi sakitnya Bapak. Apalagi yang bisa kami lakukan selain memberikan yang terbaik untukmu, Pak?

Setelah mengganti infusan, obat dan kamar, kami mendapati kondisi Bapak semakin buruk. Bapak terlihat sangat lemah. Sebelumnya Bapak bisa meluruskan posisi badannya di atas kasur, namun sekarang posisinya seperti orang yang sedang menggigil kedinginan. Bahkan, atas saran seorang dokter Bapak harusnya dilarikan ke ruang ICU, Ya Allah apakah separah itu penyakit Bapak???

***

Aku memutuskan untuk pulang ke kosan Mbak Tuti. Kami berdua tak sanggup, kami berdua tak tega ketika melihat kondisi Bapak yang semakin buruk. Tapi tetap saja namanya anak, baru setengah jalan udah kepikiran macam-macam. Yaudah, kita istirahat sejam aja, mandi kemudian balik lagi ke rumah sakit.

Belum lama merebahkan badan di kasur empuk, aku membaca chat Mbak Dewi yang sedang jaga di rumah sakit bersama ibu.

“Bapak koma.”

Astagfirullah… Aku bangun dari posisi tidurku, coba membaca ulang.

“Mbak, ini salah baca nggak sih? Kok Mbak Dewi nulisnya Bapak koma? Kok koma sih?”

Kakakku balik bertanya. Oke, kita berdua linglung tidak dapat menafsirkan artian kata koma. Bingung, ini apaan sih? Kok kaya becanda, ngelantur banget ngomongnya. Ditanya balik malah dijawab nggak tau. Kami pun memutuskan kembali ke rumah sakit untuk mencari tahu jawabannya.

Apa sih koma? Kenapa sih bisa koma? Tadi kan cari ruangan ICU? Tadi kan baru diganti obat-obatnya, terus kok koma sih? Sepanjang jalan mengendarai motor hatiku terus bertanya-tanya. Nggak bisa fokus lagi, air mata terus mengalir, tangan dan perut kram, rasanya jarak ke rumah sakit seakan seratus kali lebih jauh dari jarak normal saat itu.

Sampai rumah sakit kami berdua berlarian ke arah kamar Bapak. Pintu kamar tempat Bapak dipindahkan kubuka perlahan, di ranjang itu Bapak dikelilingi oleh anak-anaknya dan kedua cucunya. Kakakku yang ada di belakang tak sanggup lagi melangkah hingga akhirnya terjatuh di pintu kamar.

Aku berjalan perlahan mendekati kasur Bapak. Kupegang kakinya, mengapa dingin sekali kaki Bapak? Bukankah tadi terasa panas, Pak?

Kakak lelakiku mengusap muka Bapak, kenapa? Biar apa? Ia kemudian mencium kening Bapak.

Beberapa suster mulai merapikan infusan dan alat yang sebelumnya digunakan Bapak. Sepertinya sudah mendapat ruang ICU, pikirku dalam hati. Namun, saat salah seorang suster itu menggunting gelang pasien yang melingkari pergelangan tangan Bapak aku bertanya-tanya dalam hati. Lho kok digunting?

“Mbak ini tuh sebenernya gimana?” Aku masih kebingungan dan penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.

“Bapak udah nggak ada…”

Tak ada kata-kata keluar dari mulutku. Aku menangis sejadi-jadinya tanpa mengeluarkan suara apapun. Air mata mengalir deras tanpa henti dari mataku. Kakakku langsung memelukku dan membawaku keluar ruangan.

Rasanya sakit, sakit sekali mengetahui kenyataan Bapak telah tiada. Rasa sakit yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Rasa sakitnya melebihi dijauhi teman satu kelas, rasa sakitnya melebihi diselingkuhin atau diputusin pacar, rasa sakitnya melebihi dimarahi pelanggan atau atasan kerja, rasa sakitnya melebihi apapun yang pernah kurasakan di dunia ini. Sebuah rasa sakit yang tak pernah kualami sebelumnya, rasa sakit yang tidak bisa dideskripsikan lagi rasanya seperti apa. Rasanya sakit…

***

 

p.s: I were crying so hard while typing this post. He passed away almost a year ago, but I still remember everything on that day

Hari Terakhir

Sejak kecil, aku sudah hidup sebatang kara tanpa tahu siapa dan dimana orang tuaku ataupun saudaraku. Tak pernah terlintas sedikit pun untuk mencari tahu keberadaan mereka. Aku lebih suka mencari sesuatu yang bisa kumakan untuk dapat bertahan hidup dibandingkan mencari tahu asal-usulku. Ya, setiap hari aku berjalan tanpa arah sambil mencari apa saja yang bisa mengganjal perutku. Selain makanan, langkah kecilku ini selalu menuntun pada hal-hal baru yang tak pernah kutemui sebelumnya, temasuk pertemuanku dengan Dede, seorang anak berusia 9 tahun bernasib sama denganku.

Hari pertama kami bertemu menjadi momen tak pernah kulupakan sampai saat ini. Ia adalah orang pertama yang memperkenalkan padaku apa artinya rumah. Sore itu ia menunjukkan sebuah kamar kecil yang terletak di pinggiran rel kereta api. Ukurannya memang tidak cukup untuk menampung sebuah kasur empuk. Namun, besarnya pas untuk kami berdua berbaring memejamkan mata. Dindingnya pun tidak sekokoh rumah pada umumnya, hanya triplek using yang mampu menahan dinginnya angin malam ketika berhembus. Meskipun hanya mengandalkan cahaya bulan atau terangnya lampu milik tetangga, bagi kami inilah tempat tinggal terbaik kami.

Sayangnya, sebulan yang lalu istana sederhana kami menjadi bahan perdebatan sekelompok orang yang tidak kami kenal. Orang-orang dengan setelan kemeja rapi itu mengklaim bahwa tanah tempat kami tinggal bertahun-tahun ini milik mereka. Tak banyak yang dapat kami lakukan untuk mempertahankan tempat tinggal kami pada saat itu. Kami sudah mengeluarkan berbagai cara untuk bernegosiasi dengan mereka. Namun apa daya, kami dan beberapa tetangga kami yang bernasib serupa terpaksa harus angkat kaki dari tempat itu. Sejak saat itulah kehidupan kami berubah.

***

Angin timur berhembus kencang mengantarkan segerombolan awan hitam ke tempat kami berada. Teriknya matahari perlahan mulai meredup. Siang ini sang surya kalah lagi melawan awan mendung yang datang berbondong-bondong.

Tik…. Tik….

Air mulai menetes dari langit membasahi jalanan tempat kami duduk. Orang-orang yang lewat di sekitar kami terlihat berlarian menghindari tetesan air hujan. Tak sedikit dari mereka yang menggunakan tas untuk menutupi kepalanya agar tidak kebasahan. Beruntung aku duduk di depan toko yang memiliki atap pelindung yang cukup luas untuk menahan badanku dan Dede agar tidak terkena air hujan.

Hujan rupanya tidak sendirian, kali ini ia datang bersama angin. Tidak hanya membuat kami kebasahan tapi juga membuat kami menggigil kedinginan. Ah, aku tak kuat lagi menahan dinginnya cuaca kali ini. Aku melirik Dede, ia terlihat beberapa kali menggosokkan telapak tangannya dan kemudian menaruhnya di leher atau di lengannya agar hangat. Rasanya aku ingin masuk ke dalam gedung tinggi yang ada di sebrang kami, jika mereka memperbolehkan kami yang dekil ini bisa masuk.

“De, ayo ke Bangtu!”

Dede mencari sumber suara yang memanggilnya, begitupun aku. Tak jauh dari kami duduk, terlihat seorang anak berumuran tak jauh berbeda dengan Dede memegangi payung besar di tangan kirinya. Kulihat badannya basah kuyup, mungkin ia baru saja berkorban meminjamkan payungnya untuk orang lain demi mendapatkan uang untuk makan. Kulihat Dede tersenyum, ia menoleh ke arahku, seakan memberi aba-aba untuk menerjang derasnya hujan saat itu. Tanpa pikir panjang, kami nekat melawan hujan untuk berada dalam satu payung bersama teman Dede, Adi namanya.

Kami bertiga berjalan beriringan dalam satu payung menuju Bangtu, sebuah bangunan tua bekas pabrik pembuatan batu bata yang sudah lama tidak digunakan. Bangunannya memang terlihat seperti tempat pembuangan sampah atau barang bekas. Beberapa sisi tembok bahkan sudah hancur. Lantainya diwarnai dengan hijaunya rumput liar yang bercampur dengan sampah. Tidak apa-apa, setidaknya atap bangunan yang cukup luas ini mampu melindungi kami dari hujan yang tak kunjung reda sedari tadi.

Dede berjalan perlahan menuju bagian dalam Bangtu. Aku mengikuti Dede tepat di belakangnya. Kulihat tak hanya kami yang memilih Bangtu sebagai tempat berteduh. Di dalam Bangtu, ada beberapa anak seusia Dede atau bahkan lebih tua dari Dede sedang duduk bersenda gurau dengan yang yang lainnya. Beberapa di antara mereka secara bergantian tersenyum dan menyapa kami yang baru saja bergabung dengan mereka.

Dede menghentikan langkahnya di dekat perapian yang terdiri dari ban bekas dan kayu tua yang menyala sejak kami masuk Bangtu. Ia mendekatkan telapak tangannya di dekat api. Aku memilih duduk agak mundur dari posisi Dede untuk menikmati hangatnya api. Setelah merasa cukup hangat, ia berbalik mundur dari tempatnya dan duduk di sebelahku sambil mengelus halus kepalaku.

Kami berdua seakan sedang di-nina bobo-kan oleh hangatnya perapian di tengah dinginnya hujan. Aku tak sanggup lagi menahan mataku yang mulai terasa berat. Mungkin tak apa-apa jika aku ketiduran sebentar saja, toh Dede pun terlihat aman-aman saja. Sebentar saja…

“Lari!!! Lari semuanya!!! Mereka menuju kemari!!!” teriak seorang lelaki berbaju hitam yang baru saja memasuki Bangtu. Suaranya seakan menggunakan speaker berkekuatan besar yang hendak memecahkan gendang telinga kami.

Aku membuka mataku, kami berdua saling berpandangan kebingungan. Dede mencari tahu apakah yang sebenarnya terjadi dengan teman yang ada di sebelahnya. Namun, jawaban tidak ditemukan. Kami semua bingung dengan apa yang ingin di sampaikan lelaki itu.

Tak lama terdengar suara beberapa orang berlarian ke arah Bangtu. Mungkin jumlahnya ada sekitar lima sampai enam orang. Suara langkah kaki yang sebelumnya pernah kudengar, beberapa bulan lalu saat aku dan Dede sedang mengemis di jembatan penyebrangan pusat kota. Jangan-jangan ini mereka, pikirku dalam hati.

“Kami menemukan mereka, Pak! Tepatnya di bangunan tua area Flamboyan satu. Segera kirimkan bantuan. ” suara langkah kaki yang tak beraturan itu kian lama mendekat. “Ayo semuanya tangkap mereka!”

Seluruh penghuni Bangtu menoleh ke arah tersebut. Spontan semua angkat kaki melihat sekelompok orang berusia 30-40 tahun dengan menggunakan seragam yang sama. Dugaanku benar, mereka datang lagi mencari kami. Saatnya menyiapkan energi untuk lari sejauh mungkin untuk menghindar dari mereka. Tanpa aba-aba aku dan Dede melarikan diri keluar Bangtu, tak peduli bagaimana nasib yang lainnya.

Hampir sejam kami berlari menjauhi Bangtu. Dede tampak kelelahan dalam pelarian ini. Ia kemudian membelokkan badannya ke sebuah mobil di parkiran tertutup sebuah gedung. Aku mengikutinya dari belakang.

Nafasnya terengah-engah. Sesekali ia berusaha menenangkan dirinya dengan menghela napas panjang, sepertinya ini adalah pelarian yang paling melelahkan bagi kami. Ini memang bukan pertama kalinya kami berada dalam keadaan seperti ini. Seringkali kami kehabisan napas ketika harus berlarian dari kejaran lelaki berseragam yang selalu mencari kami. Mudah-mudahan tempat kami bersembunyi kali ini tidak diketahui oleh mereka.

“Tunggu di sini, aku akan melihat kondisi di luar.”

Belum sempat aku mengatakan tidak ia sudah berdiri dan pergi meninggalkanku. Aku ingin mengikuti kemana ia pergi, namun rasanya keberanianku tak sebesar badanku. Aku takut jika aku harus berhadapan dengan orang-orang itu. Aku takut jika mereka mulai meneriaki dan mengejarku tanpa kenal lelah. Ah! Aku tak peduli lagi! Dede bahkan mengorbankan dirinya sendiri demi keselamatanku. Baik, aku akan mencari Dede dan berada bersamanya lagi.

Aku memberanikan diri keluar dari persembunyianku. Kulihat kanan dan kiri, tak ada siapapun. Aku berjalan mengikuti langkah kaki Dede yang masih bisa kurasakan jejaknya. Aku dapat merasakan bahwa jarak antara aku dan Dede semakin dekat. Aku percepat langkah kakiku agar bisa lebih cepat menemui bocah malang itu.

“Jangan, Pak! Saya bukan gelandangan, saya punya rumah, saya hanya tersesat saja.”

Aku mencari di mana letak sumber suara ini. Terlambat! Orang itu lebih cepat menemukan Dede dibandingkan dengan instingku. Aku diam, tak bisa bergerak. Tubuhku seakan terpaku dengan tanah.

Dede berusaha melepaskan pergelangan tangannya dari genggaman lelaki berbadan tegap itu. Sebisa mungkin ia memohon belas kasihan dan menangis agar ia tidak dibawa oleh orang itu di bawah rintik hujan. Lelaki itu justru tak kenal ampun, diseretnya Dede layaknya ia menyeret karung beras. Dede masih berusaha menahan diri agar ia tak berpindah tempat, meskipun satu sentimeter.

Aku tak tahan lagi melihat Dede meronta kesakitan. Aku tak bisa membiarkan ini terjadi lebih lama. Tanpa pikir panjang aku berlari dan melompat ke arah lelaki itu. Kugigit keras pergelangan tangannya hingga ia mengerang kesakitan. Tangannya refleks melepas pergelangan tangan Dede.

“Aaaarrggghhh!!!!” spontan ia memukul badanku agar bisa melepaskan gigiku dari pergelangan tangannya. Namun, gigiku ini lebih kuat darinya.

“Dede, ayo cepat pergi!” terdengar suara Adi dari arah berlawanan memanggil Dede.

Dede menoleh ke arah sumber suara. Ia kemudian menatapku yang masih menggigit pergelangan tangan lelaki berseragam itu.

Pergilah, ucapku dalam hati.

Dede berusaha bangkit dari tempatnya. Ia berlari sekuat tenaga meninggalkanku yang masih berusaha mengulur waktu agar lelaki ini tidak dapat mengejar Dede. Tak hanya sekali ia berusaha melemparkan badanku ke tanah. Namun, selama punggung Dede masih terlihat di mataku aku takkan melepaskan gigitanku ini.

“Rasakan ini!” Lelaki itu memukul kepalaku dengan sesuatu yang keras beberapa kali. Aku tak sanggup menahannya lagi. Perlahan badanku terjatuh ke atas tanah tempat Dede duduk tadi. Syukurlah, Dede sudah tidak terlihat lagi dari pandanganku. Namun, suaranya dari kejauhan masih terdengar jelas di telingaku.

“Kita harus segera lari dari tempat ini!”

“Tapi Gogi masih ada di sana…”

“Ayo! Kita tidak ada waktu lagi!”

Pergilah De, pergilah yang jauh agar lelaki ini ataupun kelompoknya tak dapat mengejarmu lagi. Jangan pedulikan aku, percayalah suatu hari nanti kita pasti bertemu kembali. Aku berusaha meyakinkannya dalam hati di nafas terakhirku.

***

Kangen Jogja ≥ Kangen Kamu

adem gak sihJogja selalu jadi kota yang menarik untuk dikunjungi. Mulai dari culture-nya yang kental, makanannya yang khas, orang-orang yang ramah, dan masih banyak lagi. Apapun yang ada di Jogja bikin kita nagih dan ingin balik lagi.

Saya sendiri, bukan kali pertama mengunjungi kota Gudeg ini. Kalau biasanya, datang ke sini untuk kunjungan wisata atau study tour, kali ini berbeda. Ya, saya dan teman-teman saya sengaja mengunjungi Jogja karena undangan pernikahan salah satu teman saya. Tapi ya itu cuma “syarat” aja. Tentu saja kami memanfaatkan kesempatan ini dengan berwisata ke beberapa tempat di Jogja.

gunung dan pantaipantai dan pasirnyaDuduk manja di Pantaiberdiri manja di pantaiDestinasi pertama yang kami pilih saat itu adalah pantai yang terletak di daerah Gunung Kidul, yaitu pantai Wedi Ombok. Sebentar, ke pantai atau ke gunung nih? Eits, jangan kaget, letak pantai ini memang terletak di belakang gunung Kidul lho. Ada beberapa pantai lainnya yang menjadi tujuan wisata di daerah ini, seperti Pok Tunggal atau Indrayanti. Tapi kami memilih Wedi Ombok karena jalanan menuju ke sana tidak terlalu jauh dan masih terbilang bagus jalannya.

Pantai ini termasuk pantai yang tidak terlalu banyak pengunjungnya, alias sepi. Kamu bisa menikmati keindahan pantai ini dengan lebih khidmat. Ditambah suara deburan ombak yang menerpa bebatuan yang ada di pantai ini, aaaahhhh kangeeennn……….. kamu…………… ehe.

Ceritanya ini belum siapduduk lucu di pantailook how happy we areTidak ada kendaraan umum untuk mencapai tempat ini. Kamu dapat menyewa kendaraan di tempat terdekat dengan penginapan kamu untuk bisa sampai ke tempat ini. Pilihlah kendaraan yang nyaman karena jarak antara kota Jogja menuju Gunung Kidul cukup jauh. Tapi jarak yang jauh ini tentu sebanding dengan pemandangan cantik yang ada di sini, dijamin enggak bakal rugi.

Selain pemandangan alamnya yang indah, kamu juga bisa belajar mengenai tempat-tempat bersejarah di kota ini lho! Kamu bisa mengunjungi Keraton Jogjakarta, Alun-alun Jogjakarta di kala malam juga lucu lho, atau mungkin kamu bisa mengunjungi situs-situs bersejarah seperti Candi Borobudur atau Candi Prambanan yang (sebenernya) letaknya nggak di kota Jogja-nya sih.

Candi Ratu BokoMeskipun lagi telponan tetep harus eksis

Tempat yang membuat saya penasaran jauh-jauh hari sebelum menginjakkan kaki di kota Jogja adalah Candi Ratu Boko. Dan kebetulan teman-teman saya juga setuju untuk mengunjunginya. Walaupun dari kami semua tidak ada yang tahu tempat ini, beruntung GPS menjadi penyelamat kami hehe. Tempatnya tidak terlalu jauh dari kota Jogja, view-nya juga oke. Lebih oke lagi kalau datang ke tempat ini sore-sore sama si doi sambil menikmati sunset dari ketinggian Candi Ratu Boko. Sweeettt!

Welcome to Taman SariInside Taman Saribiar kekinian ada foto dari belakang dehTake selfie with NdewTaman Sari's GateTempat yang susah sepi kalo lagi rame, yaiyalahJika kamu ingin mengunjungi tempat yang berada di sekitaran kota Jogja, tenang saja… Kamu bisa datang ke Taman Sari. Pertama kali sampai di tempat ini, saya merasa tempat ini cukup unik. Maklum, di Bandung kagak ada beginian hehe. Walaupun bangunan ini cukup tua, tapi aroma sejarahnya sangat kuat (kopi kali ah ada aromanya). Ketika kamu memasuki area Taman Sari kamu akan melihat benteng, kolam air, pemandian dan lorong, eh lorong apa terowongan yah. Gitu deh…. Suasana di sini memang lembab, tapi bikin penasaran untuk meng-explore­ setiap sudut yang ada di Taman Sari.

Tidak lengkap rasanya pergi ke kota orang tanpa mencicipi kulinernya. Yes, kami juga sempat icip-icip kuliner yang ada di sini. Selain gudeg kami mencicipi nikmatnya Ayam Mbah Cemplung, yang letaknya sungguh sangat pelosok. Untuk salah seorang teman kami pakar kuliner Jogja-Magelang, nggak perlu pake GPS bisa sampai di tempat tanpa nyasar hehe.

Inside Tempo GelatoTrying to tastedragon fruit and lemonSelain ayam goreng, kami juga sempat mampir ke Tempo Gelato yang letaknya tak jauh dari hotel tempat kami menginap. Tempatnya memang tidak terlalu besar, tapi tempat ini sepertinya tidak pernah sepi. Banyak sekali yang ingin mencicipi gelato dengan varian rasa yang berbeda di sini. Harganya pun tidak terlalu mahal, hanya dengan Rp. 25.000 saja kamu bisa menikmati 2 scoop gelato. Worth it to taste!

Welcome to My Blog!

1 Hello

Well, actually it’s not my first blog. But…. It’s my very first post in this blog.

Yaaayyy!!!! *Throw a party*

Mudah-mudahan dengan keberadaan blog ini, Feratry bisa menuangkan apapun yang di pikirannya menjadi sebuah tulisan. Atau mungkin hal lainnya yang tidak bisa diungkapkan menjadi sebuah bacaan untuk kamu.

I wish….

After this post, you may see my random idea through story, poem, review, pray, hope or anything else. Hope you enjoy it 😉

See you in my next post,

XOXO